Orang-orang di sekitar saya cukup sering mabuk. Yah bisa dibilang dalam satu bulan, saya pasti mengalami kondisi dimana saya melihat orang-orang mabuk.Kalo saya sendiri?Wah, saya belum pernah mabuk. Dan bisa dikatakan bahwa saya menolak untuk mabuk. Padahal saya sudah mencoba beberapa minuman memabukkan. Mulai dari bir, anggur, hingga lapen.Bahkan ketika mengandung saya, ibu saya ngidam bir. Walaupun bir yang dikonsumsinya hanyalah bir ringan dengan kadar alkohol 0 %.
Tapi tetap saja saya punya pemikiran untuk tidak akan mabuk.kenapa?
Karena menurut saya, orang yang mabuk adalah orang yang sudah melupakan sebuah sisi anak2 nya. Yaitu sisi untuk lari dari kenyataan.
Anak2, menurut saya, memiliki kemampuan untuk lari dari kenyataan dengan sangat mudah. Saya ingat ketika saya kecil, saya hanya membutuhkan mainan untuk menciptakan dunia saya sendiri. Untuk lari dari kenyataan barang sebentar. Bahkan tanpa mainan pun, saya bisa lari dari kenyataan dan menciptakan dunia saya sendiri. Itu saya dapatkan lewat aktivitas melamun.
Hingga sekarang, saya hampir berumur 19 tahun, saya masih dengan mudah lari dari kenyataan dan menemukan dunia saya sendiri. Saya bisa melamun dengan mudah, kapan saja dan dimana saja.
Sedikit autis ya? Tapi ya itulah saya.
Saya tidak membutuhkan zat apapun untuk membuat diri saya lari dari kenyataan, atau dengan kata lain mabuk.
Saya diberkahi kemampuan untuk memabukkan diri.
Lagipula saya berpendapat, jika semua orang mabuk, lalu siapa yang akan tetap berjalan. Diantara 5 orang mabuk, harus ada 1 orang yang tetap sadar untuk menjaga.
Itulah sedikit pemikiran saya mengenai orang mabuk.
mungkin diantara anda yang membaca ini, ada yang tidak setuju?
tidak apa2, perbedaan itu membuat dunia semakin menarik. lagipula tidak ada salahnya beda pendapat..
setiap orang punya alasan sendiri untuk mabuk.
dan setiap orang juga punya alasan untuk tidak mabuk.
begitulah…
adios!
posted by gadis djoedjoer @ 5:09 AM |