Piece of me..
sedikit karangan yang gw bikin...lumayan menggambarkan gw sih!!EnJoy...Pada bulan Juni atau Juli 1988, di Melbourne, Australia, sepasang suami istri Indonesia menyadari bahwa mereka akan memiliki bayi. Bayi pertama mereka. Bayi perempuan.
Suami istri itu pun sangat bahagia. Bahkan sang istri sudah menemukan nama yang tepat untuk bayi itu. Nama yang ia temukan di buku sejarah aceh, saat ia kuliah di Universitas Gajah Mada, Yogyakarta. Nama seorang ratu aceh yang memimpin perlawanan terhadap penjajah. Nama itu adalah Syafiatudin.
Hampir saja bayi perempuan itu akan dipanggil Udin. Namun nasib berkata lain, sang ibu ternyata cukup peka dengan keinginan anaknya. Sehingga sang ibu memberikan tambahan huruf “a” pada akhir nama. Bayi itu pun bernama Syafiatudina dengan panggilan Dina.
Tampaknya sudah menjadi takdir bagi Dina, si bayi, untuk mengalami hal-hal diluar batas normal. Ketika sang ibu mengandung Dina, tidak terbersit dalam hati sang ibu untuk ngidam hal yang normal. Sang ibu lebih memilih sekaleng bir ringan dibanding rujak.
Saat melahirkan pun sang ibu harus melewati proses yang tidak normal, proses caesar. Namun akhirnya setelah mengalami banyak ketidaknormalan, terselip juga sesuatu yang normal. Si bayi, Dina, akhirnya lahir dengan selamat.
Sang ibu mengira ketidaknormalan akan berakhir, namun ternyata tidak.
Dina kecil tumbuh dengan memperlihatkan lebih banyak keanehan. Selain sangat senang membaca dan menonton TV, Dina kecil juga memiliki ketertarikan tersendiri terhadap kotorannya sendiri. Setiap selesai buang air besar, Dina kecil selalu melaporkan ukuran kotorannya kepada ibunya. Dina kecil juga suka menendang televisi. Sebuah kegemaran yang terhitung aneh di usianya.
Pada usia 3 tahun, Dina kecil memiliki seorang adik perempuan. Namun memiliki adik sama sekali tidak menghentikan keanehan Dina kecil. Bahkan Dina memiliki hobi baru, yaitu mengejar adiknya yang baru belajar merangkak dengan rambut palsu sepanjang punggung.
Hobi aneh Dina pun mulai berkembang seiring umurnya. Ketika SD kelas 2, Dina sangat suka memasukkan pensil ke dalam lubang hidung dan telinganya. Bahkan ketika pertemuan orang tua dengan guru, guru Dina pun mengeluhkan keanehan Dina. Namun ibu Dina bukanlah tipe ibu yang suka memaksakan keinginan pada anaknya. Sehingga sang ibu membiarkan Dina tumbuh sesuai panggilan hatinya. Dan tampaknya panggilan hati Dina adalah sebagai orang yang aneh.
Saat memasuki SMP, keanehan Dina sedikit terminimalisir. Hal tersebut diakibatkan oleh kematian kakek Dina yang cukup menggoncangkan Dina. Namun Dina tidak meneteskan air mata saat kematian kekeknya.
Dina hanya tertawa. Bagi Dina, ketika Dina tertawa menyambut kematian kakeknya, Kakeknya pun akan tertawa riang dan menari sambil berjalan menuju surga menggunakan sandal, kaus putih dan celana pendek kebanggaan kakeknya.
Dina menganggap bahwa saat meninggal berarti tugas manusia di dunia sudah selesai. Dan hal tersebut tidak perlu ditakuti ataupun disesali.
Masa SMP adalah sebuah periode panjang bagi Dina untuk mencari sebuah identitas. Selama SMP Dina sudah mencoba banyak identitas. Mulai dari menyukai musik klasik, musik rock, memotong rambut super pendek, memakai baju berbagai gaya dan sebagainya.
Sekarang di usia 17 tahun, Dina sudah merasa menemukan identitas dirinya yang sesungguhnya. Dina merasa memiliki kontrol sepenuhnya atas dirinya.
Dina mendefinisikan dirinya sebagai perempuan remaja penyuka musik jazz, new wave, electronic dance dan old-school rock, menyukai film, menyukai gaya vintage, dan unik.
Unik karena Dina adalah perpaduan 2 pribadi yang berbeda. Pribadi yang spontan, suka bertingkah gila, tidak takut berbeda, cuek, malas dan cerewet. Namun di sisi lain Dina juga suka merenung, memikirkan hal-hal mengenai kehidupan yang dialaminya, dan menginginkan semua orang bahagia.
Dina memiliki impian untuk membuat media yang dapat menampung suara anak muda. Dina ingin pergi ke India, Vietnam, Maroko, dan seluruh negara di dunia. Dina ingin membuat dunia menjadi lebih baik. Dina ingin bebas pergi kemana saja. Dina adalah jiwa yang bebas dan mandiri.
Dina adalah Dina.
posted by gadis djoedjoer @ 9:28 PM |